
Internet belakangan ini lagi panas banget, bro. Rumor soal Roblox bakal tutup di tahun 2025 bikin komunitas gamer heboh setengah mati. Ada yang langsung panik, ada yang bikin petisi, bahkan ada yang santai karena yakin ini cuma hoax. Di tengah gegap gempita isu ini, Maniaplay coba bedah faktanya, kasih perspektif tajam, dan tentu aja bahas dampaknya buat gamer Gen-Z di Indonesia.
Dari Ban YouTuber Sampai Petisi Pecat CEO
Drama seputar Roblox udah lama memanas. Dimulai dari pemblokiran akun YouTuber Schlep, lalu muncul petisi besar yang minta CEO Roblox, Dave Baszucki, mundur. Belum reda, muncul lagi cuitan akun RobloxNoobifier di X (Twitter) yang bikin geger: katanya Roblox bakal ditutup global per 1 September 2025.

Cuitan itu menyebut keputusan penutupan adalah respons langsung atas permintaan besar pemain sekaligus kekhawatiran soal keamanan. Gila aja, kabar ini langsung bikin komunitas rame.
Tapi laporan Insider Gaming langsung menegaskan kabar itu tidak benar. Roblox Corporation bilang platform mereka tetap berjalan normal dan masih jadi rumah bagi puluhan juta gamer. Jadi, apakah rumor ini cuma clickbait? Bisa jadi. Tapi efeknya nyata: pemain panik, orang tua resah, pemerintah ikut nimbrung.
Baca juga: Petisi Penutupan Roblox, CEO Diminta Mundur
Pemerintah Indonesia Ikut Cawe-Cawe Roblox
Di Indonesia, isu Roblox makin ramai setelah ada wacana pemblokiran. Beberapa pejabat menilai game ini berbahaya buat anak-anak karena dianggap banyak konten kekerasan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, bahkan terang-terangan bilang anak-anak sebaiknya tidak main Game Online karena rawan meniru kekerasan.
Namun ada juga pejabat yang melihat sisi lain. Roblox dianggap bisa jadi sarana kreativitas dan pembelajaran. Lewat Roblox Studio, siapa pun bisa bikin game tanpa harus jago coding. Bahkan banyak anak-anak muda yang sukses menciptakan game unik di sana.
Publik pun terbelah. Ada orang tua seperti Aryani dan Fadly yang setuju dengan wacana pemblokiran karena merasa anak mereka sudah kecanduan game online. Tapi ada juga figur publik seperti Sule dan Ernest Prakasa yang menilai Roblox justru punya manfaat positif asal ada aturan main yang jelas.
Roblox: Kreatif atau Bahaya?
Roblox memang fenomenal. Diluncurkan tahun 2006, platform ini bukan sekadar game, tapi juga tempat buat orang berkreasi. Ada sisi positif yang nggak bisa diabaikan: meningkatkan kreativitas, kerja sama, bahkan potensi ekonomi digital.

Studi Pew Research Center 2024 mencatat 85% remaja di Amerika main game, dan banyak di antaranya Roblox. Mereka menganggap game ini jadi sarana relaksasi, membangun komunitas, sampai mengasah problem solving.
Tapi ada juga sisi gelapnya: cyberbullying, predator online, hingga konten kekerasan. Riset Revealing Reality nunjukin anak-anak sekecil lima tahun bisa aja berinteraksi dengan orang dewasa di dalam game tanpa verifikasi usia. Bayangin risiko kalau tanpa pengawasan.
Apa Kata Pakar?
Psikolog anak Roslina Verauli menilai melarang total justru tidak efektif. Menurutnya, solusi terbaik adalah literasi digital, pendampingan orang tua, dan aturan jelas soal durasi bermain. Dengan pendekatan edukasi, anak bisa lebih sadar kapan harus berhenti.
Senada dengan itu, pakar parenting Damar Wahyu Wijayanti menyarankan orang tua memanfaatkan pedoman keamanan Roblox. Orang tua bisa menghubungkan akun mereka dengan akun anak, membatasi percakapan, hingga mengatur waktu bermain. Jadi, bukan cuma melarang, tapi membekali anak untuk bijak di dunia digital.
Roblox dan Dunia Pendidikan
Banyak yang lupa kalau Game juga punya potensi di dunia pendidikan. Riset dari Southwest University (2023) menegaskan Game juga bisa dipakai untuk pembelajaran STEM, melatih kolaborasi, bahkan meningkatkan keterampilan kognitif.
Contoh nyata? Anak Ernest Prakasa, Snow, berhasil bikin game rollercoaster di Roblox dan menghasilkan uang dari game rekomendasi Mania Slot. Ini bukti Game bisa jadi media kreatif sekaligus membuka peluang ekonomi digital.
Hoax atau Fakta?
Jadi, apakah Roblox beneran tutup? Jawabannya jelas: tidak. Roblox Corporation sudah menegaskan platform tetap berjalan. Rumor penutupan ini murni hoax yang dibesar-besarkan.
Tapi jangan salah, isu soal keamanan, cyberbullying, dan adiksi tetap nyata. Pemerintah pun punya alasan untuk mengawasi. Roblox tetap jadi salah satu platform dengan puluhan juta pemain aktif tiap hari, dan realitanya, tanpa literasi digital, risiko buruk bisa menghantui.
Buat kita di Mania Play, isu ini bukan sekadar gosip soal game ditutup atau tidak. Ini lebih ke refleksi tentang bagaimana industri game, pemerintah, dan orang tua bisa bareng-bareng bikin ekosistem digital yang sehat.
Kalau Roblox diblokir, apakah masalah selesai? Belum tentu. Anak-anak bisa pindah ke game lain yang sama adiktif. Intinya, solusi jangka panjang tetap ada di literasi digital, pendampingan, dan regulasi yang adil.
Kesimpulan
Roblox jelas nggak tutup. Tapi rumor ini ngasih pelajaran penting buat kita semua: dunia game nggak pernah steril dari kontroversi. Dari rumor hoax sampai debat soal pemblokiran, semua menunjukkan betapa besar dampak sebuah game buat generasi muda.
Apakah Roblox lebih baik diblokir, diatur, atau dibiarkan jadi ruang bebas? Itu balik lagi ke cara kita mengelola. Satu yang pasti, diskusi ini baru permulaan.
Sekarang giliran kamu, pembaca setia Maniaplay. Menurut kamu, Game ini ancaman atau peluang? Drop pendapatmu di kolom komentar, klik tombol share biar temen-temen kamu ikut nimbrung, dan jangan lupa pantau terus update rekomendasi game di Mania Slot.